Keluhan seperti perut terasa perih, panas di dada, mual, kembung, atau asam terasa naik ke tenggorokan sering membuat seseorang mencari obat asam lambung herbal.
Pengobatan berbahan herbal memang sudah lama digunakan untuk berbagai keluhan pencernaan. Namun, istilah “obat herbal” tidak berarti semua bahan herbal terbukti dapat menyembuhkan penyakit asam lambung. Bukti ilmiah untuk berbagai produk dan bahan herbal pada GERD masih terbatas, sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara bijak. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) juga menyebut penelitian mengenai pendekatan herbal dan suplemen untuk GERD masih terbatas.
Hal yang tidak kalah penting adalah memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “asam lambung”. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan refluks asam atau GERD, dispepsia, gastritis, hingga gangguan pencernaan lainnya. Penyebab dan penanganannya tidak selalu sama.
Lambung secara normal menghasilkan asam yang dibutuhkan dalam proses pencernaan. Masalah dapat muncul ketika isi lambung berulang kali naik ke kerongkongan dan menimbulkan keluhan.
Kondisi yang berlangsung berulang dan menyebabkan gejala atau komplikasi dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD). Gejalanya dapat berupa heartburn atau rasa terbakar di dada serta regurgitasi, yaitu sensasi isi lambung atau cairan terasa naik ke dada atau tenggorokan.
Karena itu, obat yang hanya ditujukan untuk “menurunkan asam” belum tentu menjadi solusi untuk semua keluhan pencernaan.
Jawabannya tergantung pada bahan, produk, dosis, penyebab keluhan, dan kondisi orang yang menggunakannya.
Beberapa pendekatan komplementer telah diteliti untuk GERD. NCCIH mencatat terdapat bukti awal mengenai beberapa pendekatan seperti alginat, latihan pernapasan diafragma, dan akupunktur, tetapi penelitian mengenai berbagai suplemen dan pendekatan herbal masih terbatas.
Artinya, penggunaan herbal lebih tepat diposisikan sebagai pendamping, bukan otomatis sebagai pengganti terapi medis.
Terutama jika seseorang sudah didiagnosis GERD atau memiliki penyakit lambung tertentu, penggunaan produk herbal sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Jahe telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan pencernaan.
Penelitian pada manusia paling banyak menyoroti manfaat jahe terhadap mual dan muntah, bukan sebagai terapi utama GERD. NCCIH menyebut bukti mengenai jahe untuk berbagai kondisi kesehatan memiliki kualitas yang beragam. Bahkan, konsumsi jahe secara oral dapat menyebabkan efek samping seperti rasa tidak nyaman di perut atau heartburn pada sebagian orang.
Karena itu, jahe tidak bisa otomatis dianggap sebagai obat untuk semua jenis asam lambung. Jika setelah mengonsumsi jahe justru muncul rasa panas di dada atau perut tidak nyaman, penggunaannya sebaiknya dihentikan.
Akar licorice juga sering digunakan dalam berbagai produk herbal yang berkaitan dengan pencernaan.
Namun, NCCIH menyatakan bahwa belum ada cukup bukti berkualitas tinggi untuk memastikan manfaat licorice pada kondisi kesehatan tertentu, dan pengaruh licorice terhadap gejala pencernaan masih belum jelas.
Yang perlu diperhatikan adalah keamanannya. Licorice mengandung glycyrrhizin yang dalam jumlah besar atau penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek serius, termasuk gangguan irama jantung dan penurunan kadar kalium. Risikonya juga lebih penting diperhatikan pada orang dengan hipertensi atau penyakit jantung maupun ginjal.
Karena itu, bahan herbal tidak selalu identik dengan bebas efek samping.
Alginat bukan tanaman herbal dalam pengertian tradisional, tetapi berasal dari rumput laut dan telah diteliti sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mengurangi gejala refluks.
Menurut NCCIH, alginat dapat membentuk lapisan atau “raft” di atas isi lambung sehingga membantu mencegah refluks naik ke kerongkongan. Sejumlah penelitian menunjukkan manfaat terhadap gejala GERD, meskipun efektivitasnya dapat berbeda dibandingkan obat seperti PPI atau penghambat H2.
Karena mekanismenya berbeda, produk berbasis alginat juga tidak sama dengan produk herbal yang hanya mengandalkan ekstrak tanaman.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua tanaman yang dikenal sebagai “obat tradisional lambung” pasti aman.
Padahal, bahan alami dapat memiliki efek samping dan dapat berinteraksi dengan obat tertentu. NCCIH menyarankan orang yang menggunakan obat untuk memberitahukan tenaga kesehatan mengenai penggunaan herbal atau suplemen karena beberapa bahan dapat berinteraksi dengan obat.
Selain bahan aktif, perhatikan juga dosis, cara penggunaan, kondisi kesehatan, dan apakah produk tersebut memang memiliki informasi komposisi yang jelas.
Peppermint justru perlu diperhatikan.
Minyak peppermint memang memiliki bukti tertentu untuk membantu gejala irritable bowel syndrome atau IBS, tetapi efek sampingnya dapat berupa refluks dan heartburn. NCCIH juga menyebut peppermint oil tidak sebaiknya digunakan oleh orang dengan GERD, terutama dalam dosis tinggi.
Jadi, tidak semua bahan yang terkenal baik untuk pencernaan cocok untuk penderita refluks.
Ini menunjukkan pentingnya membedakan antara gangguan lambung, refluks, dan penyakit saluran pencernaan lainnya.
Spasmoldin diformulasikan dari perpaduan bahan herbal seperti Temulawak, Sambiloto, Kunyit, Patikan Kebo, Jahe Merah, dan Kayu Pulai yang secara tradisional telah digunakan untuk membantu menjaga kesehatan dan kenyamanan sistem pencernaan.
Dengan kandungan bahan-bahan herbal pilihan tersebut, Spasmoldin dapat menjadi pilihan herbal untuk membantu menjaga kesehatan lambung, terutama bagi Anda yang sering mengalami keluhan seperti rasa tidak nyaman pada lambung, begah, atau sensasi perih setelah makan.
Rawat lambung dari sekarang dengan pilihan herbal yang tepat. Jadikan Spasmoldin sebagai bagian dari upaya Anda menjaga kenyamanan pencernaan dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Selain mempertimbangkan produk herbal, perubahan kebiasaan sehari-hari sering menjadi bagian penting dalam mengelola refluks.
Perhatikan makanan dan minuman yang secara pribadi membuat gejala semakin berat. NIDDK menyebut beberapa pemicu yang umum dikaitkan dengan gejala GERD, seperti kopi dan sumber kafein, makanan tinggi lemak, makanan pedas, cokelat, mint, alkohol, serta makanan tertentu yang bersifat asam. Namun, pemicunya tidak selalu sama pada setiap orang.
Bila keluhan muncul terutama pada malam hari, memberi jarak sekitar tiga jam antara makan dan berbaring atau tidur dapat membantu mengurangi gejala.
Bagi orang yang memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan juga dapat menjadi bagian dari perubahan gaya hidup untuk membantu mengurangi gejala GERD.
Tidak selalu masalah, tetapi tidak boleh dilakukan sembarangan.
Seseorang yang sudah mengonsumsi obat seperti PPI, H2 blocker, antasida, atau obat lain sebaiknya memberi tahu dokter atau apoteker sebelum menambahkan produk herbal.
NIDDK menjelaskan bahwa terapi GERD dapat meliputi perubahan gaya hidup, antasida, H2 blocker, PPI, dan pada kondisi tertentu tindakan lain. Pemilihan terapi bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, herbal sebaiknya tidak digunakan dengan tujuan menghentikan obat dokter secara sepihak.
Bila ingin menggunakan produk herbal untuk membantu menjaga kenyamanan pencernaan, pilih produk yang memiliki informasi komposisi yang jelas dan petunjuk penggunaan yang lengkap.
Periksa kandungan bahan aktif, aturan pakai, peringatan, dan informasi produsen. Hindari produk yang menjanjikan dapat menyembuhkan GERD secara permanen, menghilangkan semua jenis penyakit lambung, atau memberikan hasil tanpa dasar yang jelas.
Klaim seperti itu perlu disikapi secara hati-hati karena bukti untuk berbagai terapi herbal pada GERD belum cukup kuat untuk memberikan jaminan tersebut.
Untuk keluhan ringan, seseorang mungkin merasa gejalanya lebih nyaman setelah melakukan perubahan pola makan atau menggunakan pendekatan komplementer tertentu.
Namun, hal tersebut tidak berarti herbal dapat menggantikan seluruh pengobatan medis.
NIDDK menyatakan bahwa pengobatan GERD dapat menggunakan obat seperti antasida, H2 blocker, dan PPI sesuai kondisi. Bila gejala tidak membaik dengan obat bebas, konsultasi dengan dokter diperlukan.
Karena itu, terutama pada GERD yang menetap atau sudah menimbulkan komplikasi, penggunaan herbal saja tidak seharusnya menjadi satu-satunya penanganan.
Rasa panas di dada atau perut yang terjadi sesekali belum tentu menandakan kondisi serius. Namun, keluhan yang terus berulang sebaiknya tidak selalu diatasi sendiri.
NCCIH menyarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila heartburn atau regurgitasi tidak membaik.
Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila gejala mengganggu aktivitas, terjadi terus-menerus, atau muncul kesulitan menelan, muntah berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau keluhan lainnya.
Rasa terbakar di dada memang dapat terjadi karena refluks, tetapi jangan menganggap semua nyeri dada sebagai asam lambung.
Jika nyeri dada terasa berat, menekan, menyebar ke lengan atau rahang, atau disertai sesak, keringat dingin, pusing, dan kondisi tubuh yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Keluhan seperti itu perlu dibedakan dari heartburn karena dapat memiliki penyebab lain yang lebih serius.
Obat asam lambung herbal dapat menjadi salah satu pilihan pendamping untuk menjaga kenyamanan pencernaan, tetapi tidak semua produk herbal telah terbukti dapat mengobati GERD atau penyakit lambung. Bukti ilmiah mengenai berbagai pendekatan herbal dan suplemen untuk GERD masih terbatas.
Beberapa bahan seperti jahe dan licorice memang banyak digunakan secara tradisional, tetapi manfaat dan keamanannya perlu diperhatikan. Jahe bahkan dapat menyebabkan heartburn pada sebagian orang, sementara licorice dapat menimbulkan efek serius bila dikonsumsi dalam jumlah besar atau jangka panjang.
Karena itu, memilih obat asam lambung herbal sebaiknya tidak hanya berdasarkan label “alami”. Perhatikan komposisi, petunjuk penggunaan, kondisi kesehatan, dan kemungkinan interaksi dengan obat lain.
Yang tidak kalah penting adalah memperbaiki kebiasaan yang dapat memicu refluks, seperti mengenali makanan pemicu, tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur, menjaga berat badan, dan berhenti merokok bila merokok.
Bila keluhan asam lambung terus berulang atau tidak membaik, pemeriksaan medis tetap diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui dan mendapatkan penanganan yang sesuai.