Pernah merasa sendi tiba-tiba seperti bergeser saat bergerak, berolahraga, atau mengangkat benda berat? Kondisi ini bisa menimbulkan rasa nyeri, sensasi tidak stabil, hingga kesulitan menggerakkan bagian tubuh tertentu. Sendi yang terasa bergeser dapat terjadi pada bahu, lutut, jari tangan, pinggul, maupun bagian tubuh lainnya.
Namun, sensasi sendi bergeser tidak selalu berarti tulang benar-benar berpindah dari posisi normalnya. Terkadang, keluhan tersebut berkaitan dengan ligamen yang meregang, tempurung lutut yang bergerak tidak normal, atau tendon yang berpindah saat sendi digerakkan.
Lantas, kenapa sendi bisa geser? Memahami penyebabnya penting agar penanganan yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan tidak memperburuk cedera.
Sendi merupakan bagian tubuh yang menghubungkan dua atau lebih tulang sehingga tubuh dapat melakukan berbagai gerakan. Sendi dilengkapi dengan struktur pendukung, seperti ligamen, tendon, tulang rawan, dan jaringan di sekitarnya, yang membantu menjaga kestabilan serta kelancaran gerakan.
Dalam istilah medis, sendi yang benar-benar bergeser dari posisi normalnya dapat mengalami dislokasi atau subluksasi.
Dislokasi terjadi ketika tulang yang membentuk sendi keluar sepenuhnya dari posisi normalnya. Sementara itu, subluksasi merupakan kondisi ketika hubungan antartulang pada sendi bergeser sebagian dan masih memiliki kontak tertentu.
Kedua kondisi tersebut berbeda dari sensasi sendi berbunyi, berbunyi klik, atau terasa bergeser tanpa adanya perpindahan tulang yang sebenarnya.
Karena itu, jika sendi terasa tidak stabil atau seperti berpindah saat bergerak, penyebabnya perlu dinilai berdasarkan gejala, riwayat cedera, dan pemeriksaan fisik.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan sendi mengalami pergeseran atau terasa tidak stabil. Penyebabnya bisa berkaitan dengan cedera, kondisi jaringan penyangga sendi, hingga bentuk struktur tulang.
Salah satu penyebab sendi bergeser adalah benturan keras akibat kecelakaan, terjatuh, atau aktivitas olahraga.
Ketika tubuh menerima tekanan yang melebihi kemampuan sendi untuk menahannya, tulang dapat terdorong keluar dari posisi normal. Kondisi ini cukup sering terjadi pada sendi bahu, jari, dan beberapa sendi lainnya.
Cedera juga dapat merusak ligamen atau jaringan pendukung yang berfungsi menjaga kestabilan sendi. Akibatnya, sendi menjadi lebih mudah bergeser, terutama saat melakukan gerakan tertentu.
Jika setelah mengalami benturan sendi terlihat berubah bentuk, terasa sangat nyeri, atau sulit digerakkan, jangan mencoba mengembalikannya sendiri.
Ligamen merupakan jaringan kuat yang menghubungkan tulang dengan tulang dan membantu menjaga kestabilan sendi.
Ketika ligamen mengalami peregangan berlebihan atau robekan, kemampuan sendi untuk mempertahankan posisinya dapat berkurang. Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi sendi goyah, tidak stabil, atau seperti akan bergeser saat digunakan.
Cedera ligamen dapat terjadi akibat gerakan memutar secara tiba-tiba, salah mendarat setelah melompat, atau perubahan arah gerakan yang mendadak.
Pada sebagian kasus, kerusakan ligamen yang berat dapat meningkatkan risiko pergeseran sendi berulang.
Sebagian orang memiliki rentang gerak sendi yang lebih luas dibandingkan kebanyakan orang. Kondisi ini dikenal sebagai hipermobilitas sendi.
Hipermobilitas tidak selalu menimbulkan masalah. Banyak orang memiliki sendi yang lentur tanpa mengalami nyeri atau gangguan aktivitas.
Namun, pada sebagian orang, kelenturan yang berlebihan dapat disertai nyeri, keseleo berulang, atau ketidakstabilan sendi. Hal ini dapat terjadi ketika jaringan penyangga sendi tidak memberikan kestabilan yang cukup selama bergerak.
Jika sendi sering terasa bergeser tanpa cedera yang jelas, terutama pada beberapa bagian tubuh, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui apakah terdapat hipermobilitas yang bermakna.
Otot berperan penting dalam membantu mempertahankan kestabilan sendi saat tubuh bergerak. Ketika otot di sekitar sendi kurang kuat atau koordinasi gerakannya terganggu, sendi dapat menjadi kurang stabil.
Misalnya, kelemahan otot tertentu di sekitar bahu dapat mengganggu kontrol gerakan bahu. Pada lutut, kelemahan otot dan gangguan kontrol gerakan dapat berkontribusi terhadap keluhan ketidakstabilan.
Meski demikian, sendi yang terasa bergeser tidak selalu disebabkan oleh otot yang lemah. Cedera tulang, ligamen, atau jaringan lain tetap perlu dipertimbangkan, terutama jika keluhan muncul secara mendadak.
Tempurung lutut atau patela merupakan tulang kecil di bagian depan lutut yang bergerak mengikuti mekanisme sendi saat kaki ditekuk dan diluruskan.
Pada kondisi tertentu, tempurung lutut dapat bergerak terlalu jauh ke samping atau keluar dari alur normalnya. Kondisi ini disebut instabilitas patela dan dapat berupa subluksasi maupun dislokasi patela.
Keluhan yang muncul dapat berupa nyeri di bagian depan lutut, sensasi lutut seperti lepas, pembengkakan, atau rasa takut ketika menekuk lutut.
Pergeseran tempurung lutut dapat dipengaruhi oleh cedera, bentuk struktur tulang, kelonggaran jaringan penyangga, serta faktor biomekanik. Jika terjadi secara berulang, pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Sendi yang pernah mengalami dislokasi dapat lebih rentan mengalami pergeseran kembali, terutama jika jaringan penyangganya belum pulih secara optimal atau terdapat kerusakan yang menetap.
Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami dislokasi bahu mungkin merasakan bahunya kembali tidak stabil ketika mengangkat tangan atau melakukan gerakan tertentu.
Risiko kekambuhan dipengaruhi oleh usia saat cedera, tingkat kerusakan jaringan, aktivitas, serta proses rehabilitasi.
Karena itu, pemulihan tidak hanya bertujuan mengurangi nyeri, tetapi juga mengembalikan kekuatan otot, kontrol gerakan, dan kestabilan sendi.
Seiring bertambahnya usia, struktur sendi dapat mengalami perubahan. Tulang rawan, otot, dan jaringan pendukung sendi dapat mengalami perubahan yang memengaruhi kenyamanan maupun fungsi gerak.
Kondisi seperti osteoartritis dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan, dan keterbatasan gerakan. Pada sebagian orang, perubahan struktur sendi juga dapat memengaruhi mekanika gerakan.
Namun, osteoartritis tidak berarti tulang selalu bergeser keluar dari posisinya. Jika terdapat dugaan dislokasi atau sendi benar-benar tampak berubah posisi, kondisi tersebut perlu dinilai secara terpisah.
Gejala sendi bergeser bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.
Jika terjadi dislokasi, keluhan yang umum meliputi nyeri mendadak, pembengkakan, perubahan bentuk sendi, dan kesulitan menggerakkan bagian tubuh yang terkena. Terkadang, posisi anggota tubuh juga terlihat tidak normal.
Sementara itu, ketidakstabilan sendi dapat menimbulkan sensasi seperti sendi akan lepas, lutut terasa goyah, bahu seperti keluar-masuk, atau sendi terasa tidak dapat menopang tubuh dengan baik.
Bunyi klik atau bunyi berderak saat bergerak tidak selalu menunjukkan dislokasi. Bunyi tersebut dapat muncul akibat pergerakan tendon, perubahan tekanan di dalam sendi, atau kondisi struktur sendi lainnya.
Jika bunyi sendi disertai nyeri, pembengkakan, rasa terkunci, atau keterbatasan gerak, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan.
Jawabannya bergantung pada jenis dan tingkat keparahan masalah.
Keluhan ringan akibat iritasi jaringan atau gangguan gerakan tertentu mungkin membaik dengan penyesuaian aktivitas dan penanganan yang sesuai. Namun, dislokasi sendi yang sebenarnya membutuhkan evaluasi medis karena dapat disertai kerusakan ligamen, tulang, saraf, atau pembuluh darah.
Jangan menganggap sendi sudah sembuh hanya karena rasa sakit berkurang. Sendi yang masih tidak stabil dapat kembali mengalami cedera ketika digunakan untuk aktivitas berat.
Jika sendi tampak berubah bentuk atau diduga mengalami dislokasi, segera cari pertolongan medis. Jangan menarik, memutar, atau memaksa sendi kembali ke posisi semula karena tindakan tersebut dapat memperparah kerusakan.
Penanganan sendi bergeser perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Langkah pertama adalah menghindari gerakan yang memicu nyeri atau berpotensi memperburuk cedera.
Jika keluhan muncul setelah cedera ringan tanpa perubahan bentuk sendi, istirahatkan bagian tubuh tersebut dan hindari aktivitas yang membebani sendi. Kompres dingin yang dibungkus kain dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan.
Namun, apabila terdapat dugaan dislokasi, perubahan bentuk sendi, nyeri berat, atau kesulitan menggerakkan anggota tubuh, jangan hanya mengandalkan perawatan di rumah. Segera dapatkan pemeriksaan medis.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, jika diperlukan, pemeriksaan pencitraan seperti sinar-X untuk menilai posisi tulang dan kemungkinan adanya patah tulang.
Pada kondisi tertentu, sendi perlu dikembalikan ke posisi normal oleh tenaga medis. Setelah itu, pasien mungkin memerlukan penyangga, pembatasan aktivitas, fisioterapi, atau tindakan lain sesuai tingkat kerusakan.
Jika masalah utamanya adalah kelemahan otot atau ketidakstabilan sendi, latihan yang tepat dapat membantu meningkatkan kontrol gerakan dan kekuatan jaringan pendukung.
Latihan penguatan otot, keseimbangan, serta latihan koordinasi dapat menjadi bagian dari rehabilitasi. Namun, jenis latihan harus disesuaikan dengan sendi yang bermasalah dan kondisi cederanya.
Hindari melakukan peregangan berlebihan atau mencoba latihan untuk menggeser sendi kembali ke tempatnya. Pada kondisi hipermobilitas, misalnya, latihan yang terlalu menekankan kelenturan justru dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang.
Fisioterapis atau dokter dapat membantu menentukan latihan yang aman dan tahapan peningkatan aktivitas secara bertahap.
Segera cari pertolongan medis jika sendi tampak berubah bentuk setelah cedera, nyeri sangat berat, membengkak dengan cepat, atau tidak dapat digerakkan.
Kondisi juga memerlukan penanganan darurat jika anggota tubuh terasa kebas, kesemutan berat, menjadi pucat atau kebiruan, atau terasa lebih dingin dibandingkan sisi lainnya. Gejala tersebut dapat menandakan gangguan saraf atau aliran darah.
Jangan mencoba memperbaiki posisi sendi sendiri, meskipun sebelumnya pernah mengalami kejadian serupa.
Jika sendi berulang kali terasa bergeser, sering goyah, atau disertai nyeri yang mengganggu aktivitas, buat janji pemeriksaan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Sendi bisa bergeser karena berbagai faktor, mulai dari benturan, cedera ligamen, hipermobilitas, kelemahan otot, hingga ketidakstabilan pada sendi tertentu seperti bahu dan tempurung lutut. Namun, sensasi sendi bergeser tidak selalu berarti tulang benar-benar keluar dari posisi normalnya.
Mengenali gejala dan penyebabnya merupakan langkah penting untuk menentukan penanganan yang tepat. Jika sendi tampak berubah bentuk atau mengalami nyeri berat setelah cedera, segera cari pertolongan medis dan jangan mencoba mengembalikannya sendiri.
Untuk keluhan yang berulang, pemeriksaan serta rehabilitasi yang sesuai dapat membantu meningkatkan kestabilan sendi dan mengurangi risiko cedera berikutnya.