Artikel OSHS

Penyebab Kanker Paru: Belajar dari Kasus Paus Leo XIV dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

  • Admin OSHS
  • 23 October 2026

Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Penyakit ini terjadi ketika sel-sel abnormal di paru-paru tumbuh secara tidak terkendali dan dapat merusak jaringan di sekitarnya.

Perhatian masyarakat terhadap kanker paru kembali meningkat setelah Paus Leo XIV dilaporkan didiagnosis mengalami adenokarsinoma paru pada Oktober 2026. Berdasarkan pemberitaan resmi Vatikan, tumor tersebut ditemukan setelah pemeriksaan medis dan kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan jaringan. Pada 21 Oktober 2026, dokter menyampaikan bahwa kanker tersebut masih terlokalisasi dan tidak diperlukan perawatan onkologi tambahan setelah operasi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kanker paru dapat ditemukan melalui pemeriksaan medis, bahkan ketika seseorang tidak menyadari adanya masalah pada paru-parunya. Namun, penyebab kanker yang dialami Paus Leo XIV tidak dapat dipastikan hanya dari informasi diagnosis tersebut.

Lalu, apa saja penyebab kanker paru dan faktor yang dapat meningkatkan risikonya? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Kanker Paru?

Kanker paru adalah penyakit yang terjadi ketika sel-sel di jaringan paru mengalami perubahan dan berkembang secara tidak terkendali. Sel abnormal tersebut dapat membentuk tumor, menyerang jaringan di sekitarnya, dan dalam kondisi tertentu menyebar ke organ lain.

Salah satu jenis kanker paru yang umum adalah adenokarsinoma paru. Kanker ini termasuk kelompok kanker paru bukan sel kecil dan berasal dari sel yang memiliki karakteristik kelenjar, termasuk sel yang menghasilkan lendir di jaringan paru.

Adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru yang dapat ditemukan pada perokok maupun orang yang tidak pernah merokok. Karena itu, riwayat tidak merokok bukan jaminan bahwa seseorang bebas dari risiko kanker paru.

Kasus Paus Leo XIV: Apa yang Perlu Dipahami?

Pada Oktober 2026, Vatikan mengonfirmasi bahwa jaringan tumor yang diangkat dari paru kanan Paus Leo XIV merupakan adenokarsinoma paru. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan penyakit tersebut terlokalisasi, sehingga tim medis menyatakan tidak diperlukan terapi onkologi tambahan setelah operasi.

Informasi tersebut menjelaskan jenis kanker dan perkembangan penanganannya, tetapi tidak mengungkapkan penyebab pasti mengapa kanker itu muncul. Diagnosis adenokarsinoma tidak otomatis menunjukkan apakah kanker berkaitan dengan rokok, polusi udara, faktor genetik, atau penyebab lainnya.

Kanker terbentuk melalui perubahan pada materi genetik sel yang mengganggu mekanisme pertumbuhan dan pembelahan sel. Perubahan ini dapat dipengaruhi oleh paparan zat penyebab kanker, faktor biologis, dan proses lain yang tidak selalu dapat diidentifikasi pada setiap pasien.

Oleh sebab itu, kasus Paus Leo XIV sebaiknya dipahami sebagai contoh bahwa kanker paru dapat ditemukan pada pemeriksaan medis dan tidak selalu menunjukkan gejala yang mudah dikenali sejak awal.

Apa Saja Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Paru?

Kanker paru tidak selalu memiliki satu penyebab yang dapat ditentukan secara pasti. Namun, penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini.

1. Kebiasaan Merokok

Merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru. Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk zat karsinogen yang dapat merusak DNA sel pada saluran pernapasan dan jaringan paru.

Kerusakan tersebut dapat menumpuk selama bertahun-tahun. Ketika perubahan pada sel memengaruhi mekanisme pengendalian pertumbuhan, sel dapat berkembang menjadi kanker.

Risiko kanker paru meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dihisap dan lamanya seseorang merokok. Namun, bukan berarti setiap perokok pasti terkena kanker atau orang yang tidak merokok tidak mungkin mengalaminya.

Berhenti merokok tetap memberikan manfaat bagi kesehatan dan dapat menurunkan risiko kanker paru dibandingkan jika kebiasaan tersebut diteruskan.

2. Paparan Asap Rokok dari Orang Lain

Seseorang yang tidak merokok tetap dapat terpapar zat karsinogen ketika menghirup asap rokok dari orang lain. Paparan ini disebut perokok pasif atau secondhand smoke.

Jika paparan terjadi berulang kali, zat berbahaya dalam asap rokok dapat meningkatkan risiko kanker paru. Karena itu, lingkungan rumah, kendaraan, dan tempat kerja sebaiknya bebas dari asap rokok.

Membuka jendela atau menggunakan pewangi ruangan tidak menghilangkan seluruh risiko dari asap rokok. Cara yang lebih efektif adalah tidak merokok di dalam ruangan dan menghindari paparan asap rokok.

3. Polusi Udara

Polusi udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru. Udara tercemar dapat mengandung partikel halus dan berbagai zat berbahaya yang berasal dari kendaraan, kegiatan industri, pembakaran bahan bakar, serta kebakaran hutan dan lahan.

Paparan polusi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko, meskipun besarnya risiko dipengaruhi oleh tingkat pencemaran, durasi paparan, dan faktor individu.

Di Indonesia, persoalan ini relevan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan lalu lintas padat, dekat sumber emisi industri, atau mengalami kabut asap karhutla. Namun, iritasi akibat asap yang terjadi dalam waktu singkat tidak berarti seseorang langsung mengalami kanker paru. Risiko kanker berkaitan dengan berbagai faktor dan pola paparan, bukan sekadar munculnya batuk setelah menghirup asap.

4. Paparan Radon

Radon merupakan gas radioaktif alami yang terbentuk dari peluruhan unsur radioaktif di tanah dan batuan. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga keberadaannya tidak dapat diketahui hanya melalui indra manusia.

Radon dapat masuk dan terakumulasi di dalam bangunan melalui celah lantai atau fondasi, terutama pada kondisi tertentu dengan ventilasi yang kurang memadai. Jika terhirup dalam jangka panjang, paparan radon dapat meningkatkan risiko kanker paru.

Meskipun perhatian terhadap radon lebih banyak dibahas di negara tertentu, faktor ini menunjukkan bahwa risiko kanker paru tidak hanya berasal dari rokok atau polusi luar ruangan.

5. Paparan Bahan Berbahaya di Tempat Kerja

Pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko kanker paru jika seseorang terpapar bahan karsinogen secara berulang tanpa perlindungan yang memadai.

Beberapa contoh bahan yang diketahui berkaitan dengan risiko kanker paru adalah asbes, silika kristalin, arsenik, dan emisi mesin diesel. Risiko bergantung pada jenis bahan, tingkat paparan, durasi, serta penerapan prosedur keselamatan kerja.

Pekerja di bidang konstruksi, pertambangan, industri tertentu, dan pekerjaan lain yang melibatkan debu atau bahan kimia berbahaya perlu mengikuti standar keselamatan, menggunakan alat pelindung yang sesuai, dan memastikan pengendalian paparan di tempat kerja.

6. Riwayat Keluarga dan Faktor Genetik

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat kanker paru dapat memiliki risiko lebih tinggi. Hal ini dapat berkaitan dengan faktor genetik yang diwariskan maupun paparan lingkungan yang sama, seperti kebiasaan merokok di rumah.

Selain faktor yang diwariskan, perubahan genetik juga dapat terjadi pada sel selama kehidupan seseorang. Perubahan tersebut berperan dalam perkembangan kanker, tetapi tidak selalu berarti seseorang mewarisi kanker dari orang tuanya.

Faktor genetik merupakan salah satu alasan mengapa kanker paru dapat terjadi pada orang yang tidak merokok dan tidak memiliki paparan rokok yang jelas.

7. Riwayat Penyakit Paru dan Terapi Radiasi

Beberapa kondisi paru kronis dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru. Riwayat penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, misalnya, perlu diperhatikan, meskipun hubungan risikonya dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti kebiasaan merokok.

Orang yang pernah menjalani terapi radiasi di area dada untuk pengobatan kanker tertentu juga dapat memiliki risiko lebih tinggi di kemudian hari.

Memiliki salah satu faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker paru. Namun, informasi mengenai riwayat kesehatan penting disampaikan kepada dokter agar risiko dapat dinilai secara tepat.

Apakah Kanker Paru Bisa Terjadi pada Orang yang Tidak Merokok?

Ya. Kanker paru dapat terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Pada kelompok ini, faktor risiko dapat mencakup paparan asap rokok orang lain, polusi udara, radon, bahan karsinogen di tempat kerja, faktor genetik, atau perubahan sel yang penyebab spesifiknya tidak diketahui.

Adenokarsinoma paru juga merupakan jenis kanker yang ditemukan pada orang yang tidak merokok. Meski demikian, tidak tepat untuk menyimpulkan penyebab penyakit seseorang hanya berdasarkan jenis kanker yang dideritanya.

Hal yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa tidak semua orang dengan faktor risiko akan mengalami kanker paru. Faktor risiko meningkatkan kemungkinan, bukan memastikan bahwa penyakit akan terjadi.

Apa Gejala Kanker Paru yang Perlu Diwaspadai?

Kanker paru dapat tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Ketika gejala muncul, keluhannya terkadang menyerupai penyakit pernapasan lain.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain batuk yang tidak kunjung sembuh atau berubah dari kebiasaan sebelumnya, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, mudah lelah, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Infeksi paru yang berulang juga perlu dievaluasi, terutama jika disertai gejala lain atau tidak kunjung membaik setelah penanganan.

Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker paru. Namun, jika keluhan menetap, memburuk, atau disertai batuk darah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Batuk darah dalam jumlah banyak atau sesak napas berat membutuhkan pertolongan medis segera.

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Kanker Paru?

Tidak semua kasus kanker paru dapat dicegah, tetapi risiko dapat dikurangi melalui beberapa langkah.

Langkah terpenting adalah tidak merokok dan menghindari asap rokok. Bagi orang yang merokok, berhenti merokok tetap bermanfaat meskipun kebiasaan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun.

Selain itu, kurangi paparan polusi udara ketika kualitas udara buruk, gunakan perlindungan kerja yang sesuai jika berhadapan dengan bahan berbahaya, dan ikuti prosedur keselamatan di tempat kerja. Perbaikan ventilasi serta pemeriksaan radon dapat dipertimbangkan jika ada alasan untuk mencurigai paparan di dalam bangunan.

Orang dengan riwayat merokok berat atau faktor risiko tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai perlunya pemeriksaan skrining. Skrining berbeda dengan pemeriksaan karena gejala: skrining ditujukan kepada orang yang belum bergejala tetapi memenuhi kriteria risiko tertentu, sedangkan orang yang mengalami gejala perlu menjalani evaluasi diagnostik.

Tidak ada suplemen, makanan, atau obat herbal yang terbukti dapat menjamin seseorang terhindar dari kanker paru. Pola makan seimbang dan aktivitas fisik tetap bermanfaat bagi kesehatan umum, tetapi tidak menggantikan upaya mengurangi paparan karsinogen.

Kesimpulan

Penyebab kanker paru berkaitan dengan perubahan pada sel paru yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebiasaan merokok, asap rokok orang lain, polusi udara, radon, paparan bahan berbahaya di tempat kerja, faktor genetik, dan kondisi kesehatan tertentu.

Kasus adenokarsinoma paru yang dialami Paus Leo XIV menunjukkan pentingnya pemeriksaan medis dan tidak boleh dijadikan dasar untuk menebak penyebab kanker seseorang. Hingga informasi medis yang dipublikasikan menyatakan lebih jauh, penyebab spesifik kanker yang dialami beliau tidak dapat dipastikan.

Kanker paru juga dapat terjadi pada orang yang tidak merokok dan mungkin tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, mengurangi paparan faktor risiko, mengenali gejala yang menetap, dan berkonsultasi dengan dokter ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan paru-paru.