Pernah merasa perut kembali perih, begah, mual, atau terasa panas padahal sebelumnya sudah membaik? Kondisi seperti ini sering disebut oleh masyarakat sebagai maag.
Maag memang bisa muncul berulang. Namun, perlu dipahami bahwa “maag” bukan satu diagnosis medis yang spesifik. Keluhan seperti nyeri atau tidak nyaman di perut bagian atas dapat berkaitan dengan gastritis, dispepsia, GERD, maupun masalah lain pada saluran pencernaan.
Karena itu, mencari tahu penyebab maag kambuh menjadi penting. Dengan mengetahui pemicunya, kebiasaan yang membuat keluhan muncul dapat lebih mudah dihindari.
Penyebab maag kambuh bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang sensitif terhadap makanan tertentu, ada yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi obat pereda nyeri, sementara pada orang lain terdapat infeksi bakteri Helicobacter pylori.
Bahkan, pola makan bukan penyebab utama sebagian besar kasus gastritis. Menurut NIDDK, sebagian besar gastritis atau gastropati lebih berkaitan dengan faktor seperti infeksi H. pylori, obat tertentu, alkohol, atau kondisi medis lainnya.
Salah satu penyebab yang cukup penting adalah penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen.
Obat-obatan tersebut memang dapat membantu mengatasi nyeri, tetapi penggunaan secara rutin atau dalam dosis tertentu dapat membuat lapisan pelindung lambung lebih rentan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dapat memicu gastritis maupun meningkatkan risiko terjadinya tukak lambung.
Karena itu, bila keluhan maag sering muncul setelah mengonsumsi obat pereda nyeri, jangan langsung menganggap penyebabnya adalah makanan.
Bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori merupakan salah satu penyebab penting gastritis dan juga berhubungan dengan terjadinya tukak lambung.
Menariknya, seseorang yang terinfeksi H. pylori belum tentu langsung merasakan gejala. Pada sebagian orang, infeksi tersebut dapat menyebabkan peradangan pada lapisan lambung dan menimbulkan keluhan seperti nyeri perut bagian atas, mual, atau gangguan pencernaan.
Bila maag sering kambuh tanpa pemicu yang jelas, pemeriksaan medis dapat membantu menentukan apakah terdapat infeksi H. pylori atau penyebab lainnya.
Alkohol dapat mengiritasi lapisan lambung. Konsumsi berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap gastritis, terutama gastritis akut.
Pada orang yang sudah memiliki masalah lambung, konsumsi alkohol dapat membuat keluhan lebih mudah muncul atau terasa lebih berat.
Banyak orang menghubungkan maag dengan terlambat makan. Namun, hubungan antara pola makan dan gastritis sebenarnya tidak sesederhana itu.
Terlambat makan memang dapat membuat sebagian orang merasa perut tidak nyaman atau memicu gejala dispepsia. Tetapi pola makan bukan penyebab utama sebagian besar kasus gastritis.
Yang lebih penting adalah memperhatikan pola yang secara konsisten membuat keluhan muncul. Misalnya, seseorang mungkin merasa lebih tidak nyaman setelah makan dalam jumlah sangat banyak atau setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Tidak semua orang memiliki pemicu makanan yang sama.
Ada orang yang merasa tidak nyaman setelah kopi, makanan pedas, makanan sangat berlemak, atau minuman tertentu. Pada orang lain, makanan tersebut mungkin tidak menimbulkan masalah.
Karena itu, daripada menghindari terlalu banyak jenis makanan sekaligus, lebih baik memperhatikan makanan atau minuman apa yang secara konsisten diikuti munculnya gejala.
Hal ini terutama penting untuk membedakan antara makanan yang memicu gejala dengan makanan yang benar-benar menjadi penyebab penyakit lambung.
Stres sering dikaitkan dengan keluhan maag, tetapi perlu dilihat jenis stresnya.
Stres berat akibat kondisi serius seperti operasi besar, cedera berat, luka bakar, atau infeksi berat dapat menyebabkan bentuk gastritis tertentu yang disebut stress gastritis.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, stres dan kecemasan juga dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap berbagai keluhan pencernaan. Misalnya, perut terasa tidak nyaman, mudah begah, atau pola makan menjadi berantakan.
Jadi, ketika maag sering terasa kambuh saat banyak pikiran, jangan hanya fokus pada makanan. Kondisi tubuh secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Bagi orang yang sebenarnya mengalami refluks atau GERD, kebiasaan setelah makan dapat berpengaruh terhadap munculnya gejala.
Misalnya, langsung berbaring setelah makan dapat membuat gejala refluks lebih mudah muncul pada sebagian orang. Karena itu, mengatur waktu makan dan memberi jarak sebelum tidur dapat membantu, terutama bagi orang yang sering mengalami keluhan pada malam hari.
Namun, keluhan refluks dan gastritis tidak selalu sama. Inilah alasan mengapa istilah “maag” sebaiknya tidak digunakan untuk semua jenis gangguan pencernaan.
Salah satu kemungkinan adalah obat yang digunakan hanya meredakan gejala tanpa mengatasi penyebab dasarnya.
Contohnya, jika keluhan berkaitan dengan H. pylori, terapi yang diberikan perlu ditujukan untuk mengatasi infeksi tersebut. Demikian juga bila penyebabnya berkaitan dengan penggunaan NSAID, dokter mungkin perlu mengevaluasi penggunaan obat tersebut dan mencari pilihan yang lebih aman. Pengobatan gastritis memang bergantung pada penyebabnya.
Karena itu, maag yang terus berulang sebaiknya tidak hanya ditangani dengan membeli obat secara berulang tanpa mengetahui penyebabnya.
Menjaga pola makan dan gaya hidup tetap teratur dapat membantu mengurangi keluhan pada sebagian orang.
Cobalah memperhatikan makanan yang secara pribadi memicu gejala, hindari konsumsi alkohol, dan jangan menggunakan obat pereda nyeri secara sembarangan. Bila Anda memiliki keluhan refluks terutama pada malam hari, menghindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur juga dapat membantu.
Yang tidak kalah penting, jangan mengabaikan keluhan yang terus muncul. Maag yang berulang dapat menjadi tanda bahwa ada penyebab tertentu yang perlu diperiksa.
Tidak semua rasa perih di perut merupakan keadaan darurat. Namun, ada beberapa tanda yang tidak sebaiknya dianggap sebagai maag biasa.
Segera cari pertolongan medis apabila terdapat muntah darah, muntah yang terlihat seperti bubuk kopi, atau tinja berwarna hitam seperti aspal karena dapat menjadi tanda perdarahan pada saluran pencernaan.
Pemeriksaan juga penting bila keluhan berlangsung lama, sering berulang, semakin berat, atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Penyebab maag kambuh tidak selalu berasal dari makanan. Keluhan yang disebut maag dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi H. pylori, penggunaan obat pereda nyeri tertentu, alkohol, hingga gangguan pencernaan lainnya.
Makanan atau minuman tertentu memang dapat menjadi pemicu gejala pada sebagian orang, tetapi bukan berarti semua penderita maag harus menghindari makanan yang sama.
Jika maag sering kambuh, langkah terbaik bukan hanya mencari makanan apa yang harus dihindari, tetapi juga mencari tahu apa sebenarnya penyebab keluhan tersebut. Dengan begitu, penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi yang mendasarinya.